"Ini ya Pak, silakan digunakan untuk keperluan Bapak." sambil memberikan dua buah pecahan seratus ribu rupiah.
"Wah, terima kasih ya Nak. Kamu baik sekali, semoga kamu bisa masuk surga," Bapak itu bersyukur sambil gemetaran tangannya memegang uang yang baru saja kuberikan, mungkin ia tidak pernah diberi uang sebanyak itu selama ia meminta-minta.
Aku pun senang bisa memberi, tidak peduli uangku banyak habis, yang penting itu bisa digunakan untuk hal yang bermanfaat bagi Bapak itu nanti. Aku kembali pulang ke rumah dan melakukan rutinitas seperti biasanya.
***
Pagi ini aku kembali melakukan rutinitas seperti biasa, tapi sebelum itu aku mencoba untuk jogging sebentar dan melihat keadaan sekitar. Sampai langkah kakiku berada di tempat yang memiliki banyak gang dan itu terletak tidak jauh dari supermarket tempat biasa aku berbelanja.
"Lima ratus, enam ratus, tujuh ratus ... semuanya jadi tiga juta tujuh ratus ribu. Hahaha ... kaya aku." dari kejauhan di dalam gang terlihat samar-samar seseorang sedang menghitung uang. Entah siapa, tapi aku rasa pernah mendengar suaranya.
Kususuri jalan masuk menuju gang dan melihat sebuah hal yang mengejutkan, rupanya orang itu ialah Bapak yang meminta-minta padaku tempo hari. Dia yang melihatku tiba-tiba terkejut dan berusaha menyimpan uang yang sedari tadi dihitungnya.
"Oh, jadi ini ya kerjaan Bapak yang sebenarnya? Dasar penipu!"
Bapak itu tidak menjawab dan bergegas lari ketakutan, aku mencoba mengejarnya tapi ia lebih kencang lagi larinya, kurasa Bapak itu sudah sering berlari dari kejaran orang-orang. Betapa terkejut dan menyesalnya aku mengetahui fakta bahwa orang yang kutolong rupanya seorang penipu yang memanfaatkan segala macam hal agar dapat meyakinkan orang-orang tentang keadaannya.
***
Sejak hari itu, aku menjadi lebih berhati-hati lagi dalam mengambil tindakan. Bukan apa-apa, aku tidak mau dibodohi lagi dalam hal seperti ini. Kesempatan keduaku bukan untuk hal remeh temeh semacam ini, aku perlu sesuatu yang membuat kehidupanku di akhirat sana lebih baik.
Hari ini aku sedang berada di taman, melihat-lihat pemandangan dan kehidupan kota dari sini. Begitu tenang dan damai, anak-anak berlarian. Bunga-bunga bermekaran di sana-sini, beberapa orang terlihat sedang bercakap-cakap dengan riang.
Aku pun tidak kalah menikmati suasana hari ini, di sore hari pada hari minggu. Melepas rutinitas dan bersantai sejenak di sisi lain kota tempatku tinggal.
"Tolong, tolong tas saya dicopet ... Mas, Mas tolong saya Mas!" seorang wanita muda berteriak histeris dan meminta tolong sambil memegang tanganku bermaksud menyuruhku menolongnya mengejar pencopet yang sudah berlari cukup jauh dari pandanganku.
0 Komentar