Rani yakin ada sesuatu di kamarnya.
Kedua matanya memang tak mampu melihat, tetapi ia tahu sosok yang berdiri di hadapannya bukanlah ayahnya yang sangat ia cintai. Perlahan, sosok itu berjalan mendekat. Suara langkah kakinya semakin jelas, membuat tubuh Rani menegang.
"Tuhan, bila Engkau ada dan bersamaku, selamatkanlah aku," bisiknya sambil memeluk lutut.
Selama tiga tahun terakhir, Rani hampir tak pernah keluar dari kamar. Kebutaan yang dialaminya akibat kecelakaan telah merenggut hampir seluruh dunianya.
Hampir.
Sebab masih ada ayahnya.
Sang ayah selalu setia merawatnya. Ia tak pernah mengeluh dan dengan sabar menemani Rani melewati masa-masa tersulit dalam hidupnya.
Pernah suatu ketika Rani mencoba mengakhiri hidup dengan menyayat pergelangan tangannya menggunakan pisau cutter dari laci kamar. Ayahnya menemukannya tepat waktu dan segera membawanya ke rumah sakit.
Setelah kemarahannya tumpah karena ketakutan kehilangan putrinya, sang ayah memeluk Rani erat.
"Ayah tidak bisa hidup tanpamu."
Sejak saat itu, Rani tak pernah lagi mencoba mengakhiri hidupnya.
Ia menuruti semua nasihat ayahnya. Penglihatannya yang hilang seolah digantikan oleh sang ayah, yang selalu menceritakan dunia kepadanya—jalan-jalan yang ia lalui, orang-orang yang ia temui, hingga hal-hal sederhana yang dahulu tak pernah Rani pikirkan.
Membacakan cerita dan dongeng sebelum tidur pun menjadi kebiasaan mereka.
Namun, ada satu pertanyaan yang tak pernah benar-benar dijawab sang ayah.
"Ibu di mana, Yah?"
"Ibu sudah meninggal, Rani."
"Meninggal karena apa?"
"Sudahlah. Ayah harus pergi bekerja. Nanti kita sambung lagi."
Begitulah jawaban ayah setiap kali Rani bertanya tentang ibunya.
Ia tak pernah melihat jasad ibunya. Bahkan makamnya pun tak pernah ia datangi.
Rani sendiri mengalami kecelakaan ketika sedang pergi ke sekolah. Sejak saat itu, penglihatannya hilang. Saat masih dirawat di rumah sakit, ia beberapa kali mendengar suara ibunya menemaninya. Namun tak lama kemudian, ia hanya mendapat kabar bahwa ibunya telah tiada.
Kini hanya ayahnya yang tersisa.
Anehnya, setelah kematian ibunya, kehidupan mereka justru berubah. Ekonomi keluarga membaik. Bisnis dan pekerjaan datang silih berganti. Mereka bahkan pindah ke rumah yang jauh lebih besar.
Rani tentu tak dapat melihat rumah itu. Ia hanya mengenalnya melalui cerita ayahnya.
"Kau tahu siapa aku, gadis kecil?"
Suara itu kembali terdengar.
Rani merasakan hawa panas dari napas makhluk yang berdiri di hadapannya. Begitu dekat.
"A... aku tidak tahu. Memangnya siapa kamu?"
"Memang... seharusnya kau tidak perlu tahu."
Suara langkah kembali terdengar.
Makhluk itu semakin mendekat.
"Biar kukatakan sesuatu kepadamu sebelum kuberikan sesuatu juga. Mana yang kau pilih? Sebuah kenyataan yang perlu kau dengar atau sebuah kabar gembira?"
Rani terdiam.
Hawa keberadaan makhluk itu terasa panas dan tidak menyenangkan. Namun anehnya, ia tak merasa makhluk itu benar-benar ingin menyakitinya.
Tuhan, andaikan aku tidak buta. Mungkin aku bisa melarikan diri atau memanggil polisi. Namun sekarang aku begitu tak berdaya.
Di mana malaikat pelindungku?
Ayahku sendiri... mengapa ia menghilang begitu saja?
"Jangan takut. Aku tidak sejahat itu kepada gadis suci sepertimu. Namun kesabaranku ada batasnya. Jawablah."
Rani berpikir sejenak.
Jika memang ada kenyataan yang menyakitkan, ia ingin mendengarnya lebih dahulu. Setelah itu barulah ia menerima apa pun yang disebut hadiah.
"Aku tidak tahu siapa kau dan apa urusanmu denganku. Aku hanyalah gadis biasa yang buta. Jika kau tidak bermaksud jahat, jangan tipu aku dengan kelicikanmu."
"Hihi..."
Makhluk itu terkekeh.
"Menarik, gadis kecil. Sekarang pilihlah."
"Baik. Sampaikan kenyataan pahit itu."
Rani menarik napas.
"Keadaanku sekarang sudah cukup pahit. Ayahku tiba-tiba menghilang dan meninggalkanku sendirian. Entah apa yang lebih pahit dari itu."
Makhluk itu terdiam.
Terdengar suara kursi digeser, lalu diletakkan di samping ranjang.
Makhluk itu duduk. Angin di luar kamar mendadak berhenti. Ruangan menjadi begitu hening, seolah-olah seluruh dunia ikut menunggu percakapan mereka.
"Sungguh malang dirimu."
Suara makhluk itu terdengar lebih pelan.
"Aku adalah makhluk yang biasa dibenci manusia. Namun manusia juga sering datang kepadaku ketika mereka menginginkan sesuatu secara instan. Ayahmu pernah datang kepadaku."
"Ayah?"
"Ia datang membawa sebuah permintaan."
"Apa yang dia minta?"
"Kehidupan yang lebih baik untukmu."
Rani terdiam. Ingatannya berkelana pada tiga tahun terakhir: rumah sakit, kegelapan, pelukan ayahnya, rumah baru, dan kehidupan mereka yang tiba-tiba membaik.
"Lalu apa yang harus dibayar?"
Makhluk itu diam sesaat.
"Manusia selalu tahu bahwa setiap permintaan memiliki harga. Hanya saja, mereka sering terlambat menyadari bahwa harga itu adalah sesuatu yang paling mereka cintai."
Rani menelan ludah.
"Apa?"
"Ibumu."
Rani membeku.
"Tidak."
"Ibumu sendiri yang menyetujuinya. Ia tidak sanggup melihatmu hidup dalam kegelapan setelah kecelakaan itu. Ayahmu meminta pertolonganku, dan ibumu bersedia menjadi tumbalnya."
"Tidak mungkin..." Rani menggeleng. "Ayahku tidak mungkin melakukan itu."
"Dia melakukannya karena mencintaimu."
"Tapi kenapa Ibu?"
"Karena ibumu juga mencintaimu."
Air mata mulai mengalir dari mata Rani.
Tiba-tiba sebuah ingatan samar muncul dari masa di rumah sakit. Suara seorang perempuan yang pernah menggenggam tangannya.
Rani...
"Ibu..." bisiknya.
"Ia tahu kau mungkin tidak akan pernah melihat lagi. Ia tidak sanggup menerimanya."
Rani menutup mulutnya, menahan tangis.
"Lalu kenapa Ayah tidak pernah menceritakan semua ini?"
"Karena ia tidak sanggup. Setiap kali melihatmu, ia teringat bahwa kehidupanmu dibayar dengan kematian perempuan yang dicintainya."
Rani terdiam.
Perlahan, kepingan-kepingan masa lalu mulai tersusun.
Ibunya meninggal.
Ayahnya tak pernah menjelaskan penyebabnya.
Kehidupan mereka tiba-tiba membaik.
Bisnis datang silih berganti.
Mereka pindah ke rumah yang lebih besar.
Semua kebutuhan Rani terpenuhi.
"Jadi... semua itu..."
"Adalah harga dari perjanjian."
Rani menundukkan kepala.
Ia ingin menyangkal semuanya. Ingin percaya bahwa makhluk itu sedang berbohong. Namun semakin ia mengingat masa lalu, semakin sulit baginya menemukan alasan untuk tidak mempercayainya.
"Lalu Ayah sekarang di mana?"
Makhluk itu tidak menjawab.
"Di mana Ayah?"
Suara Rani meninggi.
"Jawab aku!"
Hening.
"Sepertinya kau sudah tahu jawabannya."
Tubuh Rani seketika lemas.
Sebuah kemungkinan yang sejak tadi ia takutkan akhirnya menjadi kenyataan.
"Jangan bilang..."
Suaranya bergetar.
"Ayah juga menjadi tumbal?"
Makhluk itu diam.
Rani memeluk lututnya erat-erat.
Untuk pertama kalinya malam itu, ia berharap dirinya tetap buta. Sebab jika ia tidak dapat melihat dunia, mungkin ia tidak perlu melihat kenyataan yang baru saja menghancurkan seluruh hidupnya.
"Ibu..."
Tangisnya pecah.
"Ayah..."
Kedua orang tuanya telah menyerahkan hidup mereka demi dirinya.
"Kenapa kalian melakukan ini untukku?"
Tak ada jawaban.
Rani hanya menangis dalam kegelapan yang selama ini ia benci.
"Setankah engkau?"
"Begitulah kalian biasa memanggilku."
Jawabannya singkat.
Rani kembali terdiam. Ia tak tahu harus berkata apa. Mungkin kematian adalah satu-satunya jalan agar semuanya berakhir. Mungkin dengan mati, ia bisa menemukan ketenangan dan bertemu kembali dengan ibunya.
"Sebelum kau berniat mati, lebih baik kau dengarkan dulu kabar gembira yang akan kusampaikan."
Rani tetap diam.
Baginya, tak ada lagi kabar gembira setelah mengetahui bahwa ayahnya telah mengorbankan ibunya.
Namun jauh di dalam hatinya, ia masih percaya bahwa ayahnya benar-benar mencintainya.
"Kau tahu ke mana ayahmu pergi? Mengapa ia menghilang?"
"Aku tidak ingin mendengarnya!"
Rani berteriak sambil menutup kedua telinganya.
Namun suara setan itu tetap terdengar.
"Itu karena ia sendiri sudah mati."
Rani membeku.
"Ia menjadi tumbal untuk kesembuhanmu."
Suara itu terdengar tenang.
"Ayahmu merasa sudah cukup merawatmu. Karena itu, ia datang kembali kepadaku untuk menukar jiwanya dengan sepasang mata baru untukmu."
Rani menggeleng keras.
"Tidak..."
"Kau sekarang akan bisa melihat lagi."
"Tidak!"
Rani tetap menutup telinganya.
"Kau tidak akan berteman dengan kegelapan lagi."
"Tidak!"
"Karena kegelapan itu kini sudah pindah ke hatimu."
Rani terisak.
"Ini. Terimalah hadiah dari ayahmu."
Setan itu mengangkat tangannya ke arah kepala Rani.
Seketika cahaya biru memenuhi ruangan. Rani merasakan hawa dingin menusuk kedua rongga matanya. Sesuatu seolah bergerak di dalam sana. Di luar kamar, angin kembali berembus dan ranting-ranting pohon bergoyang diterpa udara malam. Kemudian semuanya berhenti.
"Kini kau bisa melihat lagi."
Suara setan itu terdengar lembut.
"Walaupun aku adalah setan, aku tetap menepati janji. Sekarang urusan antara kau dan aku telah selesai."
Rani masih menangis.
"Hiduplah dengan damai, Rani kecil."
Suara itu menghilang. Perlahan, Rani membuka kedua matanya.
Untuk pertama kalinya setelah tiga tahun, cahaya masuk ke dalam matanya. Ia ingin melihat wujud setan itu. Ia ingin bertanya bagaimana caranya bertemu kedua orang tuanya. Namun tak ada siapa-siapa. Ia sendirian di kamar. Hawa panas yang tadi memenuhi ruangan telah menghilang. Kamar itu kini terasa dingin dan sunyi.
Rani memandang sekeliling. Ia melihat tempat tidur. Dinding. Jendela. Kedua tangannya. Dan untuk pertama kalinya, ia melihat dirinya sendiri. Kali ini Rani menangis dengan mata terbuka.
Kenyataan yang ia dapati malam itu jauh lebih menyakitkan daripada kegelapan yang selama ini menemaninya. Ia teringat ayahnya. Pelukan hangatnya. Dongeng-dongeng sebelum tidur. Suara yang selama tiga tahun menjadi pengganti matanya.
Dan ibunya, yang bahkan tak sempat ia lihat untuk terakhir kalinya. Air mata terus mengalir. Namun kali ini, Rani tidak berniat mengakhiri hidupnya. Dengan keyakinan penuh, ia berbisik kepada ruangan yang telah kembali sunyi.
"Ayah... Ibu... terima kasih."
Ia menarik napas panjang.
"Aku berjanji akan terus hidup."
30 Komentar
Bagian akhirnya bikin merinding sekaligus sedih. Awalnya mengira sosok setan itu hanya datang membawa teror, ternyata justru menjadi perantara yang mengungkap pengorbanan kedua orang tua Rani. Kalimat tentang kegelapan yang akhirnya pindah ke hati Rani juga terasa kuat banget. Ending-nya pahit, tapi keputusan Rani untuk tetap hidup membuat ceritanya terasa semakin dalam
BalasHapusSetelah bisa melihat langsung berubah keinginan yaaa 😅😅.
BalasHapusSerem ceritanya mas.. sebenernya seram Krn efek dari perjanjian dengan iblis itu. Makanya aku ga habis pikir dengan manusia yg berani bikin perjanjian dengan setan. Apa ga tahu efeknya di dunia, tumbal dan segala macam, belum lagi efeknya di akhirat 😔.
Pada akhirnya kalau udh merasakan sekali, kayaknya susah utk bisa kluar dari sana yaa.
Wah, ternyata bukan cuma cerita horor ya, tapi lebih ke kisah pengorbanan orang tua yang bikin hati ikut nyesek. Bagian saat Rani tahu kalau ayah dan ibunya ternyata sudah menjadi tumbal demi dirinya itu benar-benar bikin sedih, apalagi sampai akhirnya Rani bisa melihat lagi. Ending-nya juga kena banget, Rani memilih tetap hidup meskipun harus menerima kenyataan pahit tentang kedua orang tuanya.
BalasHapusBegitulah manusia
BalasHapusTadi bilang ga mau tapi setelah matanya bisa melihat eh keinginannya ternyata berbeda. Hihi...
Contoh untuk manusia itu, kalau setan saja bisa berusaha menepati janji, masa manusia enggak? Haha...
Endingnya wahh juga nih kak. Bikin cengeng aja nih mata. Semangat menulis cerita lainnya ya....
BalasHapusceritanya dapet banget suasana mencekam dan emosionalnya. Nyesek parah pas tahu perjuangan dan pengorbanan ortunya Rani yang rela numbalin diri demi masa depan anaknya. Di satu sisi kasihan banget sama Rani yang harus nanggung beban mental seberat itu, tapi ending-nya bikin lega karena dia milih buat tetep kuat dan lanjut hidup. Ditunggu karya selanjutnya ya kak
BalasHapusDark banget mas
BalasHapusTapi sekaligus menunjukkan kalo ortu akan melakukan apaaaaa aja demi anaknyaa ya
walopun caranya keliru, ya kekmanaaa...ortu modalnya cuma sayang yg luber2 doang. kadang lupa dhn iman dan aqidah
cerita horor selalu jadi momok buatku...setiap baca pasti ada rasa deg2an nyaa..mikir ada adegan apa yaa selanjutnya..tipa baca ataupun liat film horor kewaspadaan langsung naik 1005 sepertinya hehe...jadinya aku jarang banget bersentuhan dengan cerita2 horor mbaa terutama horor indonesia atau asia tenggara yaa karena berasa related banget ceritanya kalo horor barat masih bisa lah di tolelir meski lebih baik juga dihindari kalo aku hehe
BalasHapusOMG Plot twist soal pengorbanan kedua orang tuanya benar-benar kerasa menohok ya Kang...... Kasihan banget sama Rani, baru bisa ngeliat lagi tapi harus nanggung beban perasaan seberat itu. Penulisan ceritanya dapet banget suasana tegang dan sedihnya.
BalasHapusSalut sama keteguhan hati Rani di akhir yang milih buat tetap bertahan hidup demi menghargai pengorbanan mereka
Meringis bacanya.
BalasHapusBisa jadi ada kisah nyata seperti ini, walau ini adalah cerpen.
Ada pengorbanan orangtua demi anaknya agar bisa melihat dan melanjutkan hidup yang lebih baik.
Meski di sisi lain juga ga menyenangkan, karena hidup tanpa orangtua itu lebih menyedihkan huhu
Banyak banget muatan pesan moralnya. Terlebih keputusan si Bapak yang melakukan pesugihan alias perjanjian sama setan. Dia rela mengorbankan istri dan dirinya sendiri. Ini beneran kasih sayang membabi buta. Ngeri sih. Dan jadi anaknya pun akan beneran bingung. Endingnya diluar dugaan.
HapusSeperti film-Film honor Indonesia, memang banyak orang menginginkan sesuatu dengan jalan instan. Makanya mereka melakukan perjanjian dengan setan, iblis atau sebangsanya dan menukar jiwanya atau termasuk keluarganya juga.
BalasHapustapi percuma, bisa setelah keinginan tercapai semuanya hampa. Padahal harga paling berharga adalah keluarga dan hidup bahagia bersama keluarga adalah impian semua orang. kalau setan, iblis, jin dan lainnya kan, memang tugas utamanya membuat manusia tak bahagia.
Pesan moralnya dapat banget, bahwa setiap orang tua pastilah berkorban untuk anak-anaknya. Dan, kita sebagai anak pun harus juga berkorban waktu, dengan cara berbakti dan terus mendoakan mereka.
BalasHapusMenarik banget ceritanya. Horor yang melow juga nih. Secara seorang ayah pengen yang terbaik buat anaknya, rela bersekutu dan membuat perjanjian sama setan. Mengorbankan istri tercinta bahkan diri nya sendiri demi anaknya.
BalasHapusPengorbanan kedua orang tua Rani nggak sia-dia. Anak itu rupanya setelah bisa melihat, jadi ingin tetap hidup. Ada pembelajaran berharga meski dark.
Aku baca ini sambil bayangin sebenarnya Rani ini sedang koma atau habis OP mata. Huehehe.. Jadi alam bawah sadarnya membawa dia pelan-pelan.
BalasHapusBagus mas ceritanya, cuma pas aku baca malem, jadi berasa serem. Kebayang setannya ini suzana. Hahahhaha.. :D
Ceritanya relate bgt dgn salah satu keluargaku. Bahkan tetangga2ku yang langsung kaya dari sebelumnya biasa2 aja.
BalasHapusTumbal. Ini udah hal biasa untuk menukarkan sesuatu dengan hal yang berharga milik kita.
Sesuatu yang mistis, kadang kita heran kok masih ada di zaman modern seperti sekarang. Padahal masih ada jalan halal yang tentu saja kalo dilakoni emang ga mudah.
Tapi dasarnya manusia lah ya. Pengen serba instan. Kalo bisa kaya mendadak, kenapa tidak? Meski harus menukarkan nyawa.
Cerita yang bagus kak Teddy.
Pengorbanan yang tiada tara dari Ayah dan Ibu Rani. Ketika memiliki seorang anak, orang tua pasti akan melakukan apa saja, bahkan jika itu harus bertaruh nyawa sekalipun. Apalagi seorang Ibu. Ibu itu paling sering bilang "Rela Mati Demi Anak". Sedangkan Ayah, sepengalaman saya dan dari cerita teman-teman, mereka gak bilang gitu, tapi lebih ke siap menemani sampai si anak benar-benar bisa hidup mandiri.
BalasHapusBtw, saya penasaran dari mana datangnya si Setan ini. Apakah warga di sekitar kehidupan Rani ini memang dipenuhi setan atau bagaimana ya?
Periih yaa..
BalasHapusSelalu ada harga yang dibayar, yakni sebuah pengorbanan.
Namun, aku sadar betul sebagai orangtua, pasti menginginkan yang terbaik untuk anak. Tapii.. aku ga nyangka sampai ke nyawa sii.. alias menjadi tumbal.
Ga kebayang juga sama dosanya...
Semoga Allah melindungi kita dari godaan syaithan yang terkutuk.
Kyknya aku punya pendapat yang agak beda niiiihh. Kelihatannya aja bapak ibunya sok2 berkorban, tetapi mereka agak egois yaaa, nggak mau hadir buat anaknya dan nggak mau usaha dulu nyari rezeki, malah milih jalur kegelaoan buat jadi kaya, buat bikin anaknya menderita.
BalasHapusAku jadi Rani yang sekecil itu mungkin malah membenci bapak ibunya sih huhu.
Tapi secara keseluruhan aku suka sekali jalan ceritanya, plot twistnya mencengangkan :D
Merinding sekaligus sedih.... Terutama ketika di akhir terungkap bahwa pengorbanan kedua orang tua Rani ternyata demi dirinya. Syukurnya Rani akhirnya memilih untuk tetap hidup meskipun kenyataan yang diterimanya begitu pahit. Ending-nya terasa kuat dan meninggalkan pesan tentang cinta dan pengorbanan orang tua. Judulnya pun bikin penasaran sejak awal. Kereeeen, Kak!
BalasHapusSuka euy bacanya. Ceritanya dark banget tapi plot twist-nya dapett... Awalnya dikira bakal fokus ke teror si monster, ternyata malah twist banget ke pengorbanan orang tua yang bikin ikutan nyesek. Rani yang akhirnya milih tetap hidup setelah tahu kenyataan tentang Ayah dan Ibunya itu justru yang paling dapet di aku. Seremnya dapet, tapi setelahnya bikin mellownya dapet juga
BalasHapusduh ceritanya serem kirain cuma ibunya aja yang jadi tumbal ternyata ayahnya juga. Semoga aja Rani ini hidupnya bisa damai dan dijauhkan juga dari permintaan seperti ini
BalasHapusCerita ini sedih, miris dan seram. Aku nggak paham gimana konsepnya tumbal dan kenapa itu bisa terjadi. Karena dalam ajaran agamaku, yang mencabut nyawa itu Malaikat Izrail. Jadi tumbal ini aku bingung. Emang setan atu jin bisa mencabut nyawa manusia? Atau setan hanya mencelakai terus yang mencabut nyawa tetap malaikat? Wallahuallam ya.
BalasHapusTapi emang Rani sebaiknya nggak bunuh diri agar nggak sia-sia yang dilakukan orang tuanya.
Sering kali hidup itu penuh pilihan sulit kayak dalam cerpen ini. Bagai makan buah simalakama.
BalasHapusCeritanya dark banget niiyy... Antara nyesek, sedih dan juga takut bacanya. Begitulah jika manusia tergelincir perjanjian yang tidak semestinya. Huhuuu... Rani... Pilu sekali nasibmu.
BalasHapusPlot twist yang sangat menyentuh sekaligus tragis! Pengorbanan kedua orang tua Rani bener-bener bikin merinding dan sedih. Orang tua memang suka ingin yang terbaik untuk anak. Tapi, terkadang caranya suka salah. Seperti di cerita ini malah berurusan dengan tumbal.
BalasHapusCerita ini menarik karena berhasil menggabungkan unsur horor dengan konflik emosional yang cukup kuat. Pada awalnya, pembaca dibuat penasaran dengan sosok misterius di kamar Rani, tetapi semakin jauh ceritanya berjalan, justru hubungan keluarga dan pengorbanan orang tua yang menjadi bagian paling menyentuh. Plot twist bahwa kedua orang tua Rani mengorbankan diri demi kesembuhan anaknya terasa tragis sekaligus mengharukan. Bagian akhir juga memberikan pesan bahwa meskipun kenyataan sangat menyakitkan, hidup tetap harus dijalani sebagai bentuk penghargaan terhadap pengorbanan orang tua. Cerita ini bukan hanya tentang setan atau tumbal, tetapi juga tentang cinta, kehilangan, dan arti sebuah pengorbanan.
BalasHapusJudulnya uda serem banget. Baca judul, langsung bayangin monster yang serem. Eh ternyata, cerita ini nggak soal monster saja ya, ada juga kisah pengorbanan orang tua
BalasHapusHmm takut bacanya haha
BalasHapusSoalnya lagi nonton drama juga yang semisal
Dan memang kalau sudah melakukan hal yang tidak semestinya yaa gitu deh
wah ini lebih ke cerita horor sih, tapi memang patut diberi empati pada sosok rani yang harus ditinggal oleh ibu tercinta dan harus menerima kenyataan matanya buta karena kecelakaan.
BalasHapus