Sumber : an_tonio0 (Telegram Pixel Art Channel)




Napas Rani terengah-engah. Detak jantungnya berpacu lebih cepat dari biasanya. Seumur hidup, ia belum pernah merasakan ketakutan seperti ini. Hawa kamar tidurnya mendadak terasa aneh—dingin, tetapi sekaligus panas dan sulit dijelaskan.

Rani yakin ada sesuatu di kamarnya.

Kedua matanya memang tak mampu melihat, tetapi ia tahu sosok yang berdiri di hadapannya bukanlah ayahnya yang sangat ia cintai. Perlahan, sosok itu berjalan mendekat. Suara langkah kakinya semakin jelas, membuat tubuh Rani menegang.

"Tuhan, bila Engkau ada dan bersamaku, selamatkanlah aku," bisiknya sambil memeluk lutut.

Selama tiga tahun terakhir, Rani hampir tak pernah keluar dari kamar. Kebutaan yang dialaminya akibat kecelakaan telah merenggut hampir seluruh dunianya.

Hampir.

Sebab masih ada ayahnya.

Sang ayah selalu setia merawatnya. Ia tak pernah mengeluh dan dengan sabar menemani Rani melewati masa-masa tersulit dalam hidupnya.

Pernah suatu ketika Rani mencoba mengakhiri hidup dengan menyayat pergelangan tangannya menggunakan pisau cutter dari laci kamar. Ayahnya menemukannya tepat waktu dan segera membawanya ke rumah sakit.

Setelah kemarahannya tumpah karena ketakutan kehilangan putrinya, sang ayah memeluk Rani erat.

"Ayah tidak bisa hidup tanpamu."

Sejak saat itu, Rani tak pernah lagi mencoba mengakhiri hidupnya.

Ia menuruti semua nasihat ayahnya. Penglihatannya yang hilang seolah digantikan oleh sang ayah, yang selalu menceritakan dunia kepadanya—jalan-jalan yang ia lalui, orang-orang yang ia temui, hingga hal-hal sederhana yang dahulu tak pernah Rani pikirkan.

Membacakan cerita dan dongeng sebelum tidur pun menjadi kebiasaan mereka.

Namun, ada satu pertanyaan yang tak pernah benar-benar dijawab sang ayah.

"Ibu di mana, Yah?"

"Ibu sudah meninggal, Rani."

"Meninggal karena apa?"

"Sudahlah. Ayah harus pergi bekerja. Nanti kita sambung lagi."

Begitulah jawaban ayah setiap kali Rani bertanya tentang ibunya.

Ia tak pernah melihat jasad ibunya. Bahkan makamnya pun tak pernah ia datangi.

Rani sendiri mengalami kecelakaan ketika sedang pergi ke sekolah. Sejak saat itu, penglihatannya hilang. Saat masih dirawat di rumah sakit, ia beberapa kali mendengar suara ibunya menemaninya. Namun tak lama kemudian, ia hanya mendapat kabar bahwa ibunya telah tiada.

Kini hanya ayahnya yang tersisa.

Anehnya, setelah kematian ibunya, kehidupan mereka justru berubah. Ekonomi keluarga membaik. Bisnis dan pekerjaan datang silih berganti. Mereka bahkan pindah ke rumah yang jauh lebih besar.

Rani tentu tak dapat melihat rumah itu. Ia hanya mengenalnya melalui cerita ayahnya.

"Kau tahu siapa aku, gadis kecil?"

Suara itu kembali terdengar.

Rani merasakan hawa panas dari napas makhluk yang berdiri di hadapannya. Begitu dekat.

"A... aku tidak tahu. Memangnya siapa kamu?"

"Memang... seharusnya kau tidak perlu tahu."

Suara langkah kembali terdengar.

Makhluk itu semakin mendekat.

"Biar kukatakan sesuatu kepadamu sebelum kuberikan sesuatu juga. Mana yang kau pilih? Sebuah kenyataan yang perlu kau dengar atau sebuah kabar gembira?"

Rani terdiam.

Hawa keberadaan makhluk itu terasa panas dan tidak menyenangkan. Namun anehnya, ia tak merasa makhluk itu benar-benar ingin menyakitinya.

Tuhan, andaikan aku tidak buta. Mungkin aku bisa melarikan diri atau memanggil polisi. Namun sekarang aku begitu tak berdaya.

Di mana malaikat pelindungku?

Ayahku sendiri... mengapa ia menghilang begitu saja?

"Jangan takut. Aku tidak sejahat itu kepada gadis suci sepertimu. Namun kesabaranku ada batasnya. Jawablah."

Rani berpikir sejenak.

Jika memang ada kenyataan yang menyakitkan, ia ingin mendengarnya lebih dahulu. Setelah itu barulah ia menerima apa pun yang disebut hadiah.

"Aku tidak tahu siapa kau dan apa urusanmu denganku. Aku hanyalah gadis biasa yang buta. Jika kau tidak bermaksud jahat, jangan tipu aku dengan kelicikanmu."

"Hihi..."

Makhluk itu terkekeh.

"Menarik, gadis kecil. Sekarang pilihlah."

"Baik. Sampaikan kenyataan pahit itu."

Rani menarik napas.

"Keadaanku sekarang sudah cukup pahit. Ayahku tiba-tiba menghilang dan meninggalkanku sendirian. Entah apa yang lebih pahit dari itu."

Makhluk itu terdiam.

Terdengar suara kursi digeser, lalu diletakkan di samping ranjang.

Makhluk itu duduk. Angin di luar kamar mendadak berhenti. Ruangan menjadi begitu hening, seolah-olah seluruh dunia ikut menunggu percakapan mereka.

"Sungguh malang dirimu."

Suara makhluk itu terdengar lebih pelan.

"Aku adalah makhluk yang biasa dibenci manusia. Namun manusia juga sering datang kepadaku ketika mereka menginginkan sesuatu secara instan. Ayahmu pernah datang kepadaku."

"Ayah?"

"Ia datang membawa sebuah permintaan."

"Apa yang dia minta?"

"Kehidupan yang lebih baik untukmu."

Rani terdiam. Ingatannya berkelana pada tiga tahun terakhir: rumah sakit, kegelapan, pelukan ayahnya, rumah baru, dan kehidupan mereka yang tiba-tiba membaik.

"Lalu apa yang harus dibayar?"

Makhluk itu diam sesaat.

"Manusia selalu tahu bahwa setiap permintaan memiliki harga. Hanya saja, mereka sering terlambat menyadari bahwa harga itu adalah sesuatu yang paling mereka cintai."

Rani menelan ludah.

"Apa?"

"Ibumu."

Rani membeku.

"Tidak."

"Ibumu sendiri yang menyetujuinya. Ia tidak sanggup melihatmu hidup dalam kegelapan setelah kecelakaan itu. Ayahmu meminta pertolonganku, dan ibumu bersedia menjadi tumbalnya."

"Tidak mungkin..." Rani menggeleng. "Ayahku tidak mungkin melakukan itu."

"Dia melakukannya karena mencintaimu."

"Tapi kenapa Ibu?"

"Karena ibumu juga mencintaimu."

Air mata mulai mengalir dari mata Rani.

Tiba-tiba sebuah ingatan samar muncul dari masa di rumah sakit. Suara seorang perempuan yang pernah menggenggam tangannya.

Rani...

"Ibu..." bisiknya.

"Ia tahu kau mungkin tidak akan pernah melihat lagi. Ia tidak sanggup menerimanya."

Rani menutup mulutnya, menahan tangis.

"Lalu kenapa Ayah tidak pernah menceritakan semua ini?"

"Karena ia tidak sanggup. Setiap kali melihatmu, ia teringat bahwa kehidupanmu dibayar dengan kematian perempuan yang dicintainya."

Rani terdiam.

Perlahan, kepingan-kepingan masa lalu mulai tersusun.

Ibunya meninggal.

Ayahnya tak pernah menjelaskan penyebabnya.

Kehidupan mereka tiba-tiba membaik.

Bisnis datang silih berganti.

Mereka pindah ke rumah yang lebih besar.

Semua kebutuhan Rani terpenuhi.

"Jadi... semua itu..."

"Adalah harga dari perjanjian."

Rani menundukkan kepala.

Ia ingin menyangkal semuanya. Ingin percaya bahwa makhluk itu sedang berbohong. Namun semakin ia mengingat masa lalu, semakin sulit baginya menemukan alasan untuk tidak mempercayainya.

"Lalu Ayah sekarang di mana?"

Makhluk itu tidak menjawab.

"Di mana Ayah?"

Suara Rani meninggi.

"Jawab aku!"

Hening.

"Sepertinya kau sudah tahu jawabannya."

Tubuh Rani seketika lemas.

Sebuah kemungkinan yang sejak tadi ia takutkan akhirnya menjadi kenyataan.

"Jangan bilang..."

Suaranya bergetar.

"Ayah juga menjadi tumbal?"

Makhluk itu diam.

Rani memeluk lututnya erat-erat.

Untuk pertama kalinya malam itu, ia berharap dirinya tetap buta. Sebab jika ia tidak dapat melihat dunia, mungkin ia tidak perlu melihat kenyataan yang baru saja menghancurkan seluruh hidupnya.

"Ibu..."

Tangisnya pecah.

"Ayah..."

Kedua orang tuanya telah menyerahkan hidup mereka demi dirinya.

"Kenapa kalian melakukan ini untukku?"

Tak ada jawaban.

Rani hanya menangis dalam kegelapan yang selama ini ia benci.

"Setankah engkau?"

"Begitulah kalian biasa memanggilku."

Jawabannya singkat.

Rani kembali terdiam. Ia tak tahu harus berkata apa. Mungkin kematian adalah satu-satunya jalan agar semuanya berakhir. Mungkin dengan mati, ia bisa menemukan ketenangan dan bertemu kembali dengan ibunya.

"Sebelum kau berniat mati, lebih baik kau dengarkan dulu kabar gembira yang akan kusampaikan."

Rani tetap diam.

Baginya, tak ada lagi kabar gembira setelah mengetahui bahwa ayahnya telah mengorbankan ibunya.

Namun jauh di dalam hatinya, ia masih percaya bahwa ayahnya benar-benar mencintainya.

"Kau tahu ke mana ayahmu pergi? Mengapa ia menghilang?"

"Aku tidak ingin mendengarnya!"

Rani berteriak sambil menutup kedua telinganya.

Namun suara setan itu tetap terdengar.

"Itu karena ia sendiri sudah mati."

Rani membeku.

"Ia menjadi tumbal untuk kesembuhanmu."

Suara itu terdengar tenang.

"Ayahmu merasa sudah cukup merawatmu. Karena itu, ia datang kembali kepadaku untuk menukar jiwanya dengan sepasang mata baru untukmu."

Rani menggeleng keras.

"Tidak..."

"Kau sekarang akan bisa melihat lagi."

"Tidak!"

Rani tetap menutup telinganya.

"Kau tidak akan berteman dengan kegelapan lagi."

"Tidak!"

"Karena kegelapan itu kini sudah pindah ke hatimu."

Rani terisak.

"Ini. Terimalah hadiah dari ayahmu."

Setan itu mengangkat tangannya ke arah kepala Rani.

Seketika cahaya biru memenuhi ruangan. Rani merasakan hawa dingin menusuk kedua rongga matanya. Sesuatu seolah bergerak di dalam sana. Di luar kamar, angin kembali berembus dan ranting-ranting pohon bergoyang diterpa udara malam. Kemudian semuanya berhenti.

"Kini kau bisa melihat lagi."

Suara setan itu terdengar lembut.

"Walaupun aku adalah setan, aku tetap menepati janji. Sekarang urusan antara kau dan aku telah selesai."

Rani masih menangis.

"Hiduplah dengan damai, Rani kecil."

Suara itu menghilang. Perlahan, Rani membuka kedua matanya.

Untuk pertama kalinya setelah tiga tahun, cahaya masuk ke dalam matanya. Ia ingin melihat wujud setan itu. Ia ingin bertanya bagaimana caranya bertemu kedua orang tuanya. Namun tak ada siapa-siapa. Ia sendirian di kamar. Hawa panas yang tadi memenuhi ruangan telah menghilang. Kamar itu kini terasa dingin dan sunyi.

Rani memandang sekeliling. Ia melihat tempat tidur. Dinding. Jendela. Kedua tangannya. Dan untuk pertama kalinya, ia melihat dirinya sendiri. Kali ini Rani menangis dengan mata terbuka.

Kenyataan yang ia dapati malam itu jauh lebih menyakitkan daripada kegelapan yang selama ini menemaninya. Ia teringat ayahnya. Pelukan hangatnya. Dongeng-dongeng sebelum tidur. Suara yang selama tiga tahun menjadi pengganti matanya.

Dan ibunya, yang bahkan tak sempat ia lihat untuk terakhir kalinya. Air mata terus mengalir. Namun kali ini, Rani tidak berniat mengakhiri hidupnya. Dengan keyakinan penuh, ia berbisik kepada ruangan yang telah kembali sunyi.

"Ayah... Ibu... terima kasih."

Ia menarik napas panjang.

"Aku berjanji akan terus hidup."